isu-isu memabukkan

sodara2, sepertinya negeri ini memiliki banyak persoalan yg tak tertuntaskan. isu nasonal — yang bukan lagi bisa disebut isu — mengalir bergantian, satu per satu, dengan buntut reaksi pada porsi masing2. ada yang eksplosip ada pula yg teronggok walau tetep jadi komon sens. yg terpanas saat ini adalah ipdn.. seluruh negeri tahu soal ini..

sebelumnya ipdn 2007, tukulism (dengan leptopnya) mampir ke wakil orang sak endonesa dan isu yang heboh adalah kasus korupsi direktur di lembaga beras itu. kabar tukulism sontak menuai bengok di mana2. yang korupsi agak mending–kayaknya blo-ap cuma ada di mainstream media. di blog? meski ada tapi ndak banyak.. dan saat ini bergoyang dan paling (agak) hangat dan aktuil akhir2 ini (barangkali) adalah uan. perbicangan di blog? uademm..

memang sebelum uan ini, topik kasus ipdn dengan korban cliff muttu-nya itu rruuaaarr biaassaaa dahsyatnya dan begitu memabukkan.. terlebih lagi kasus ini menjadi semacam kail yang menguak tak tertuntaskannya penyelesaian hukum atas kasus sebelumnya (kematian praja wahyu)

terus terang saja dalam ranah blogsphere (sebenarnya ini artinya apa sih, mas/mbak?), persoalan nasional itu adalah hal terheboh yg saya dapati. ini saya amati dan rasakan setelah sejak bulan agustus 2006, saya mulai cuap-cuap begajulan ndak temtu arah di salah satu ruangannya mbak maya yang berlabel blog ini. di bulan agustus ini saya tergumun-gumun ketika memasuki dunia teknologi informasi yg berkembang cepat ini. hemm.. peradaban, begitu pikir saya waktu pertama kali ngisi formulir di kos2an ala mr matt wordpress ini.

sodara2, bagi saya kabar kematian cliff muntu telah melahirkan babak dalam cerita baru.. di mana-mana pula.. tapi saya mau cerita soal yg saya gumuni di ruangannya mbak maya ini. terutama reaksinya…

realitas kekerasan di ipdn yg selama terbungkus rapi itu akhirnya ketauan juga. sekolah calon birokrat itu ternyata begitu mengerikan. pembinaan (maha)siswa macam apa ini? begitu saya ketika nonton pidio kungfu-kungfu ala ipdn itu.. bahkan sebagian besar orang endonesa prihatin dengan kenyataan itu, saya yakin itu. reaksi boleh jadi macam2.. puncaknya, lahirnya Petisi Online di ranah blogsphere ini. salah satunya silakan lihat di sini.

(wah mirip, catatan sejarah yang dibuat hariman siregar dengan Petisi 24 di tahun 1973 itu ya?)

pendukungnya sama2 ribuan.. ada bedanya, mbah!! bedanya, yang dulu gerombolan manusianya bisa dilihat, yang sekarang ndak kelihatan.. yang dulu yg diprotes negara, yg sekarang calon pemimpin atau pengelola negara.. dan yg paling jelas beda adalah tuntutannya..

kembali ke soal petisi online (bosen banget saya), saya bergumun, hasilnya mau dikemanakan ya? bandingkan sama teriakan kawan2 yg berpanas-panas (berdemo) itu. yg begitu aja sering ndak kedengeran kok.. apalagi lagi yg suara kibor, cetak cetik mouse, serta berderet kode-kode bahasa planet yg ternyata bisa bikin orang menjelajah ke seluruh dunia ini. saya kok kurang yakin ya?

haduhh, bukannya saya pesimis, cuman saya mau relistis saja.. kalo itu mau dikirim ke (entah) divisi IT istana presiden atau departemen pendidikan dan entah via email atau situs, apa iya jawabannya memuaskan? paling konkrit barangkali malah ditanyain, petisi ini mewakili siapa? atau, siapa ketua yang bisa dijadikan martir -nya?

ahaa.. tanggung kan?

“kalo tanggung di-smash donk,” begitu teriak pelatih bola poli er te saya..

yah.. itu saja kegumunan saya akhir2 ini, sodara.. semoga beberapa persoalan sebelumnya tidak terlupakan dan menguap entah ke mana.. karena saya yakin di depan akan ada persoalan lagi, yg berbeda, yang memabukkan, yg mungkin lebih mengoyak nurani kita.. apa itu? saya pun tidak tahu..

pokokmen, jangan sampe beberapa tahun lagi, tiba2 kita dengar bahwa para penganiaya cliff muntu itu ternyata sudah menjadi camat yang barangkali akan menandatangi ktp sampeyan..
mudah2an setelah postingan saya tidak menuai caci dari sampeyan2.. paling2 saya cuman deleg-deleg berguman-gumun, “modar cocotku..”

karena apa? karena ternyata sampeyan ndak tahu apa pesan saya di balik pesan ini. karena apa lagi? karena saya pun tidak tahu? yg saya tahu adalah larik gamblisannya si michael jackson itu: make a better place, better world.. for you, for me and the entire human race..

artinya, kwe karo aku segone podho.. halahhh..šŸ˜›

One response to “isu-isu memabukkan

  1. mbah dahulu kala , instrumen politik pengabdiannya cuman kepada dua arah ideologi, kapitalis atau sosialis. Aku tuh saiki bingung mbah, instrumen politik kita katanya pengen mengadopsi keduanya.Artinya jalan tengah yang lebih bermartabat dan ber-manusiawi sesuai harkat dan nilai2 Adiluhung kita.Lalu dirumuskanlah dengan yang namanya Pancasila,”TOP”. Ternyata orang2 tua kita dulu jauh lebih cerdas dan canggih merumuskan siapa sebenarnya kita.

    Tapi dalam perjalanannya , koq kesepakatan ber-Pancasila itu ternyata baru sampai pada tahap “catatan” untuk “supaya” dan untuk “agar”. Karena nyatanya perilaku pemimpin2 kita dalam mengendalikan instrumen politiknya tidak sesuai dengan apa yang disepakati dahulu,bahasa formalnya “konstitusi”itu lho mbah.Ibaratnya mau kekiri engga tapi kekanan juga engga, ke’Pancasila’ juga malu-malu kucing.
    Makanya semua pada bingung, bukan rakyatnya aja yang bingung , mereka juga jelas2 bingung , sampai jadi bahan parodi telivisi bergaya BBM.

    Aku jadi keminter ya mbah?, ya biarin…daripada ndlahom sepanjang hidup.

    Nah , disaat negeri seperti ini,kalau dulu lorong2 tempat setan2 ber-gerilya lebih mudah bisa kita kenali. Sekarang..? , setan2 itu pake baju agamawan yang mulia ,figur2 cantik seksi mempesona , koruptor2 yang tampak seolah teraniaya .Mereka lebih bebas mengekspresikan dan menampilkan ujudnya lewat segala macam bentuk rupa , ya..atas nama demokrasi itu lho mbah.

    Tapi rasanya aku yakin mbah , itu bukan demokrasi Pancasila yang di-omong2in sama mbah Karno dan Mbah Hatta dulu, bersama temen2nya mbah-mbah yang lainnya. Piye to iki..mbah..

    saya jadi ingat kata pak damardjati supadjar yg dosen filsafat u ge em.. konon, filsafat barat ‘tak berdaya’ menghadapi filsafat timur yg adiluhung itu.. saya juga ndak jelas yg bagemana.. lha wong uraian filsafat dua baris, “ho no co ro ko do to so wo lo” sudah bikin mumet je.. (saya sampe mbatin, “pak, sampeyan ngomong apa sih?”šŸ˜› )

    semu orang lebih mudah berujar sebagaimana pakemnya demokrasi.. wah, lagu ‘Badut’ punya rombongane sampeyan itu.. kalo ndak salah tentang semua orang bisa ngomong, biarpun sembarangan..

    contohnya saya ini.. ngomongnya sembarangan..šŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s