Bertani Itu Menyenangkan…

wah, tetangga dusun saya masuk koran Kompas – Edisi Jogja, 12 Februari 2007..

Aktivitas Anak
Bertani Itu Menyenangkan…

“Jangan injak tanaman padinya ya!” seru Pak Guru pada murid- muridnya. Meski mendengar peringatan itu, kaki-kaki telanjang anak- anak pun tak luput menginjak padi-padi yang masih hijau. Tanpa beban, kaki-kaki mungil tersebut dibenamkan lebih dalam ke lumpur.

Albertus Bawa Sungkono, “Pak Guru”, pagi itu pun tak bisa berbuat banyak menghadapi antusiasme para siswa kelas III SD Tarakanita Bumijo, Yogyakarta, di lahan sawah miliknya. Meski begitu, senyum dan keramahan tetap terpancar di wajahnya.

Minggu (11/2), petani dari Dusun Brayut, Pendowoharjo, Ngaglik, Sleman, itu menjadi guru yang juga teman belajar anak-anak untuk mengenal lebih dekat profesi petani, sekaligus alam pedesaan. Kegiatan yang dilakukan tak hanya nyemplung ke sawah semata.

Semua berawal dari alam beserta makhluk hidup yang ada di sekitarnya. Konsep ini diperkenalkan pada anak-anak sejak awal “tur” pertanian mereka. Mendampingi satu kelompok yang terdiri atas 17 anak, Bawa pertama-tama mengajak mereka memasuki kandang sapi. Bukan hanya binatang biasa, anak-anak diberi pengertian bahwa sapi merupakan binatang yang sangat berharga, pemelihara kelangsungan hidup padi. Dari kotoran cair dan padatnyalah tanaman memperoleh makanan.

Tak semua anak antusias mendengar penjelasan itu memang. Namun, begitu kesempatan memegang dan memberi makan sapi diberikan, semua asyik berdekat-dekat dengan sapi perah milik Bawa. “Seneng, baru pertama kali ini pegang sama ngasih makan sapi sendiri,” kata Albert. Cara memerah susu yang diajarkan Bawa menarik perhatian anak- anak. Kamera digital dikeluarkan untuk mengabadikan momen yang jarang dilihat sehari-hari itu.

Dari kandang sapi, anak-anak yang pagi itu mengenakan celana pendek bersendal jepit dibimbing untuk mencari tanaman pegagan di sekitar sawah. Beberapa anak tanpa ragu mengais tanah untuk menemukan pegagan. Ada pula orangtua yang ikut turun mencarikan pegagan untuk anaknya.

Pegagan ini lalu dimasukkan ke dalam gelas plastik untuk selanjutnya diisi top soil atau lapisan tanah teratas yang ada di bawah tumpukan daun bambu di atas Sungai Brayut. Hanya satu dua anak yang tak menyentuh tanah. Sebagian besar sudah mulai akrab dengan tanah dan tak lagi takut kotor. Sambil mengais tanah dengan jari, senda gurau tak lepas dari mereka.

Selama perjalanan melewati pematang sawah, Bawa menerangkan binatang-binatang sahabat petani seperti kecebong, katak, sampai cacing yang akan mati bila terkena insektisida. Penjelasan sederhana itu pun cukup efektif mendekatkan anak-anak pada binatang yang dijumpai di sekitar. Terbukti, kecebong yang sempat ditangkap dikembalikan lagi ke dalam sawah.

Dari atas sungai, mereka kembali lagi untuk mengisi pot plastik dengan pupuk kompos yang diproses dari kotoran sapi-sapi yang mereka beri makan di awal. Tak ada lagi kecanggungan ketika anak-anak itu memasukkan pupuk kompos dengan tangan mereka.

Tak berapa lama kemudian, kegiatan dilanjutkan dengan acara panen ubi. “Ubi ini tanaman selingan padi, nggak perlu dipupuk lagi karena tanah sudah subur,” kata Bawa, sebelum anak-anak kembali berjongkok asyik mengais tanah untuk berburu ubi jalar. Sorak girang muncul ketika ubi dengan ukuran besar bisa ditemukan.

Selesai memanen ubi, anak-anak tak sabar mengikuti kegiatan yang sudah ditunggu-tunggu: masuk ke sawah. “Pingin ke sawah sampai kebawa mimpi,” ujar Erni (36), menceritakan keinginan putrinya, Tiara. Tak mengherankan ketika tak ada yang menolak melepas sendal jepit untuk mengikuti Bawa masuk ke dalam lumpur di sawah.

Meski hanya beberapa jam, keasyikan tersebut cukup untuk memberi gambaran pada anak-anak bahwa bertani itu menyenangkan. Pemahaman awal yang diperlukan untuk proses lebih lanjut ialah penghargaan terhadap kerja keras petani dan ketertarikan untuk mendalami dunia pertanian nantinya…. (AB3)

Baca dari naskah asli, klik di sini.

PS:
sayangnya, ada yang salah di penulisan “….petani dari Dusun Brayut, Pendowoharjo, Ngaglik, Sleman….” yang bener adalah “Dusun Brayut, Pandowoharjo, Sleman, Sleman Yogyakarta“…
karena, dusun itu berada di Desa Pandowoharjo, Kecamatan Sleman, dan Kabupaten Sleman..

halah… opo to iki??? koyo media corrector wae…

2 responses to “Bertani Itu Menyenangkan…

  1. hahaha..kui yo tonggo ndseoku je..sampeyan ngendi je..aku yo pendowo ki. …

    ~~~
    podho kelurahane.. saya sisih lor mas..

  2. Menarik. Pelajaran membumi dan kembali ke alam inilah yang saat ini perlu digalakkan. Sebab anak-anak kini banyak yang tidak paham dari mana dia berasal dan akan kemana? Tambah payah disesatkan oleh politik negara yang gak karuan.

    Sarono Putro Sasmito
    Pemimpin Redaksi Buletin Suara Pendidikan Kabupaten Ogan Ilir Sumsel
    HP 08153801762

    biasanya kalo ada unsur galak menggalak begitu, anak2 pada ndak mau je?😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s