IQ 143 dibawa ke psikiater: gara-gara ada angka 7 dalam raportnya.

hari ini saya dan salah satu teman baik saya ngobrol perihal hubungan hasil test IQ dengan raport. saya sangat tergumun-gumun dengan ceritanya, pengalaman teman saya itu. sampe-sampe saya nggedumel panjang labar tak tentu arah. sampe-sampe seolah-olah saya sedang memarahinya. kejadiannya kurang lebih 15 tahun lalu. djaman doeloe.. tempo doeloe…

djaman doeloe, teman saya bercerita bahwa gara-gara test itu, dia pernah dibawa ke seorang psikiater. waktu itu ia duduk di kelas 5 SD. berarti sekitar 15 tahun yang lalu. wah? saya pikir teman saya ini agak dol dari kecil. ternyata sebaliknya. bukan karena agak dol, tapi saking cerdasnya. lhadalah…

anak cerdas dibawa ke psikiater.
ceritanya begini, djaman doeloe, di sekolahnya diadakan test IQ. hasilnya, teman saya masuk kategori jenius, yaitu hasil 143. dan sampai sekarang pun saya mengakui soal kecerdasannya.

tapi, ternyata hasil 143 tidaklah membuat pihak sekolahnya merasa tenang. pasalnya, ada mata pelajaran nilainya 7. padahal, menurut teman saya itu, seharusnya anak dengan IQ setinggi itu harus minimal 8 atau 9. angka tujuh barangkali tabu, saya mbatin karena masih bingung dengan penjelasannya. wah? saya pikir itu tidak mutlak.. dan saya pikir pendapat itu bukan genuine milik teman saya itu. tapi lebih pada pendapat kepala sekolah dan guru yang merepotkan hasil angka 7..

menurut teman saya, IQ 143 adalah sebuah variabel/indikator penilaian di raport. jadi kalo ada angka dibawah 8, itu berarti ada yang tidak beres. kontan saya menyanggahnya.. “kayaknya tidak seperti itu deh,” sanggah saya.

sejauh saya tahu bahwa penilaian raport itu dinilai dari 1. hasil te ha be, 2. hasil ulangan, 3. tugas-tugas (pe er dan sejenisnya), dan 4. (jelas) penilaian subyektif guru di kelas… iya kan? kenapa sampai ke psikiater?

“sampai-sampai orangtua ibu saya dipanggil ke sekolah,” katanya seakan menggambarkan bagaimana waktu itu pak kepala sekolah dan gurunya dibuat kalang kabut. entah bagaimana jalan cerita penyelesaian kontroversi itu, akhirnya kepala sekolah dan gurunya sepakat kalo teman saya dibawa ke psikiater. duh biyung?

kekerasan terhadap anak: ekses panjang di kemudian waktu
saya jadi gumun dan prihatin dengan perlakuan yang diterima teman saya itu. menurut saya itu adalah kekerasan terhadap anak. entahlah, sepertinya termasuk kekerasan simbolik. saya jadi ingat, kalo nggak salah seorang filsuf perancis, Jean Paul Sartre dalam beberapa baris di bukunya, Psikologi Imajinasi, kurang-lebih mnyebutkan soal kecenderungan bahwa seorang psikiater seringkali menjustifikasi atau memberikan klaim-klaim atas satu masalah atau kepada seseorang. orang yang bersambat kepada psikiater itu pun meng-iya-kan sebagai kebenaran. ini barangkali yang terjadi. dan itu menimpa pada seorang anak berusia 11 tahun.. apalagi akhirnya disimpulkan bahwa nilai raport jelek itu karena teman saya suka menggambar (komik).. ‘saya jadi seperti terdakwa,’ katanya.

lhoh? anak kreatif kok salah! saya gumun lagi. saya jadi ingat teman saya mengadakan lomba melukis anak. tak disangka-sangka jumlah pesertanya melebihi yang diperkirakan. kenapa aktivitas menggambar teman saya justru ‘dimatikan’? saya berpikir bahwa di usia seperti itu saya lagi senang2nya maen lapangan, sepakbola, dan naik sepeda. entah benar apa tidak, menurut saya, pada seusia itu seorang ana belum cukup umur untuk dihadapkan dengan perdebatan soal kejiwaan. dan saya menyebutkan bahwa itu fase terbesar dalam hidupnya.

karena apa? peristiwa itu praktis akan selalu diingat. akan ada akibat negatif soal itu di kemudian hari.. sederhananya, minimal dia relatif lebih sulit menerima kegagalan yang diterimanya dan keberhasilan teman dalam usaha yang sama. test kerja misalnya. karena apa? blow-up jeniusitasnya mencetak pemikiran mengenai cara melihat orang2 di sekitarnya. cukup disayangkan bahwa kecerdasan dan kejeniusan luar biasa itu telah menjadi kontroversi di masa kecilnya.. itu menjadi monumen hidupnya. dan entah kenapa hasil menggambar komiknya yang masih ada dan tersimpan hingga saat ini tidak akan diperlihatkan kepada siapapun.

kenapa? guman dan gumun saya dalam batin,

11 responses to “IQ 143 dibawa ke psikiater: gara-gara ada angka 7 dalam raportnya.

  1. iya, saya juga gumun. test IQ, emang penting banget ya? saya rasa kok enggak. gumun, saya😀

    salam kenal. mari bersalam-salaman. halah

    ~~~
    salam kenal… (jabat tangan)
    test IQ gak bisa jadi portfolio ya?
    hihihihi..

  2. hola, salam kenal juga (semuanya pada kenalan?)

    test IQ itu penting banget, dan itu akan menjadi portfolio sang anak itu juga.
    tapi yang disayangkan justru adalah para orang2 dewasa, dalam hal ini orang tua dan guru, yang justru salah mengintrepretasikan fungsi dari identifikasi IQ tersebut.

    Banyak orang tua me”material”isasikan sang anak ke dalam bentuk “gambaran masa depan” sang orang tua. Mereka hanya melihat anak dalam bentuk “nilai2 dalam rapor” dimana semakin kecil digambarkan sebagai kesuraman masa depan (maksudnya menjauh dari kesuksesan versi orang tua). Hal ini masih mendingan dibandingkan orang tua yang menjadikan “nilai rapor” sebagai harga diri mereka…

    Banyak guru melihat anak itu sebagai wujud prestasi mereka. Ketika sang anak mendapat nilai bagus, maka sukseslah sang guru itu… padahal sebenarnya kesuksesan mereka itu seharusnya terlihat 10-20 tahun mendatang, tapi ya mo gmana ya… Sekolah pun ga jauh berbeda, anak hanya dilihat sebagai komoditas yang mendatangkan uang penghasilan. Yang berprestasi akan dijual namanya sehingga di tahun mendatang bisa mendatangkan anak orang tua yang mau dan berani bayar SPP lebih tinggi.

    sori ya kebanyakan komen, hehehe…

    ~~~
    hooaaa..
    salam kenal, bos…
    gapapa, kira2 hasil test IQ dari 10-20 tahun yang lalu itu skrg masih valid gak ya? atau, kalo di-test lagi hasilnya sama apa beda?

    komen lagi ya, bos?

  3. hasilnya beda-beda bos… tergantung lembaga yang test ama kesehatan kita waktu tes juga

    Saya percaya bahwa guru yang baik itu bukan guru yang membuat murid dapat nilai gede, tapi guru yang dapat membuat murid itu menjadi interest dan termotifasi mempelajari topik tersebut… sehingga 10-20 tahun kemudian jadi suatu wujud karya nyata😀

    ~~~
    lha ya itu..
    berarti test 10-20 tahun ndak bisa jadi portfolio to?
    ndak bisa difungsikan kayak ijazah… hehehehe

  4. IQ mu pasti bagus mas (***sensor***)…pasti itu (memuji-muji dan menahan agar tidak menghina, agar anak yang dikandung sitrinya pintar)
    tenan iki..mas (***sensor***) pasti ngga kalah sama temennya itu…

    hehe

    ~~~
    asal ikhlas aja pasti gak kuwalat

  5. Salam kenal…..
    Menurut saya hasil yang diperoleh dari tes IQ tidaklah menentukan nilai raport dari orang tersebut. Soalnya dari berbagai referensi yang saya baca, IQ seseorang itu diperoleh sejak lahir dan merupakan bawaan sejak lahir. Jadi, kalau misalnya kita ikut tes IQ dan hasilnya buruk, tidak usah khawatir, karena dari berbagai penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli bahwa: “Orang yang ber-IQ tinggi(jenius) tapi malas”, tidak akan bisa mencapai atau mendapatkan apa yang diinginkan. Sebaliknya “Orang yang ber-IQ normal/dibawah normal” tetapi rajin dan berusaha sungguh-sungguh akan lebih berhasil dalam mencapai keinginannya dibanding orang yang ber-IQ tinggi tapi malas.
    Yang harus kita ketahui saat ini, bahwa para ahli mengatakan IQ seseorang tidak akan begitu berubah walaupun telah melakukan latihan, karena IQ seseorang tersebut didapat hasil bawaan sejak lahir dan bukan hasil yang diperoleh dari latihan.
    Sedangkan kita tahu, kalau hasil raport yang kita dapat itu merupakn hasil yang kita dapat dari latihan, pengalaman dan kerja keras yang telah kita lakukan.
    Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terima kasih.

  6. tul… coz waktu saya kelas 3 sma pernah dapet merah ampe 8 mata pelajaran😀
    .. dan di waktu bersamaan test IQ saya tertinggi di sekolah dengan nilai 133 :(….
    and everybody said that i’m “nyontek”… cape deeeeeeeeeeh…

  7. Percaya ga, waktu SD IQ ku cuma 89 …. Nilai sekolahku biasa aja…. Ga pintar tapi cenderung bolot…. (wakakakak) tetapi alhamdulilah semua pelajaran masih nempel di otak tuh….
    klow ditanya masih bisa jawab… Alhamdulilah ga tergoda untuk nyontek juga…. Aku lebih cenderung untuk melihat diri apaa adanya jadi bisa tahu kekurangan dan kelebihan…. Buktinya dari tahun 2004 aku lulus kuliah dah 9 kali tukar tempat kerja karena ingin tantangan dan tiap di interview alhamdulillah diterima…
    Jangan percaya nilai yang diberikan orang ke kita… Karena sesungguhnya nilai kita tak terhingga tergantung eksplorasi diri aja…. So be your self, friends….

  8. pentingan tes IQ apa tes EQ sih ?
    ^^
    kalo gak salah denger dan mengalami , tes intelegensi atau tes kepandaian dan tes Emotional a.k.a tes kepandaian bersosialisasi tuh memang perlu . .
    tapi pertanyaannya , apakah hasil dari tes itu VaLid ?
    bisa gak yah terjadi kayak kasus di atas ?
    nilai tes nya bagus pada kenyataan di kehidupan nya malah “belok” ?
    IQ ku 140 , tapi sekarang IP dan IPK jadi anjlok tuh . . (pengaruh keadaan) ^^*
    yaelah , Tuhan menganugerahkan manusia apa yang disebut kesempurnaan [dibanding hewan dan tanaman tentunya]. .
    syukuri apa yang ada , apa yang kita punya . . karena gak semua yang kita inginkan bisa kita dapatkan . .
    Everyday is a miracle . .
    smile and tetap semangat yah teman-teman sekalian . .
    =D

  9. kt siapa iq ga penting?itu justru jadi sangat nilai plus.maksudnya, iq memang ga segalanya.orang dengan iq standar bisa aja memperoleh hasil maksimal dengan usaha yang keras, tapi bagi orang ber iq tinggi,mungkin ia bisa memperoleh hasil yang sama tanpa usaha yang sama spt yang dilakukan orang dengan iq standar.yang paling krusial,memang,usaha,tapi iq sesuatu nilai yg sangat membantu.bisa kebayang orang dengan iq tinggi berusaha dengan maksimal?ngeri euy.tapi kalo ketinggian,itu bisa jadi pedang nggak bergegang.kadang lebih baik untuk tidak terlalu pintar..
    -tiduran

  10. cacad ma ,,,
    asoooooooooooooooooo

  11. Sijenius itu suatu kelebihan
    namun kebodohan bukanlah suatu kekurangan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s