pekerjaan dan bekerjanya saya

apa pekerjaan saya? saya bekerja untuk siapa? ternyata bukan untuk siapa-siapa. saya bekerja untuk diri saya sendiri. apa pekerjaan saya? semua yg bisa saya kerjakan, itu saja! titik!

beruntungkah saya? relatif, begitu saya jawab sendiri.

ah, entah kenapa saya harus menulis dan menambahkan kategori di ruang gumunan orang dusun, ya saya ini. tadi siang dan kemaren siang saya bercakap-cakap dengan seorang teman (agak baru). dia sudah bekerja utk salah satu media ternama di ibukota ini. tapi dia membuat saya terkejut. apa yang ditanyakan? beliau menanyakan kepada saya apakah ada pekerjaan yang bisa dikerjakan oleh beliau.. wah? saya ini juragan proyek po yo? gumun saya..

“wah? terbalik,” pikir saya. saya bukan siapa-siapa. bekerja saja masih tidak tetap.
apalagi saya pernah punya cita-cita seperti beliau. actually, saya ‘iri’ lho dg anda? harusnya anda bangga karena sudah jadi jurnalis. sedangkan saya tidak.. saya terpaksa (dan harus) urungkan hal itu karena saya sadar betul tidak akan diterima dan tidak ada yang akan menerima saya jadi bagian dari mereka. faktor apa? jelas! USIA… sam gong kobong! hahahhahhaaa…begitu beberapa teman saya mencandai saya.

memang, kembali ke soal pekerjaan, kata saya dan juga beberapa teman saya sudah over-age. jadi, jangan sekali-kali melongok soal lowongan pekerjaan di mana pun. huhh… saya sudah terlambat? mungkin.. sudah SELESAI-kah saya? belum! saya belum berakhir. karena sebulan ini mendapatkan tempat untuk bisa belajar dengan cita-cita itu, dengan pekerjaan itu. walau konsekuensinya mengenaskan, yaitu tanpa bayaran. ya! di media itu.. keberadaan media baru itu ternyata menyemangati saya untuk belajar dan belajar lagi. belajar apa? ya belajar menulis… seperti ini lho! sekedar pemberitahuan saja, dari dulu saya tidak pernah bisa menulis dengan baik dan benar. entah kenapa saya tidak pernah bisa menulis
dengan baik dan benar.. setidaknya sampai saat ini, detik ini..

hal yang saya paling suka di media ini adalah tidak adanya atasan (baca: redaktur) yang biasanya straight (baca: kaku) yang biasanya suka ngomel-ngomel soal yang ditulis, tidak ada ‘sikat-menyikat’ antar-pekerja dan/atau sekedar melihat pemandangan seorang teman kerja yang lamis — ini biasanya teman2 sambatnya soal ini (sambat positif tentunya). intinya yang nggak enak itu mulai dari iklim kantor, deadline sampai soal kehabisan tema liputan.

pernah seorang teman saya, wartawan tivi, menanyakan kepada saya soal tema liputan. waduh, saya jadi membayangkan andai saja saya beruntung dapat bekerja dalam posisinya.. hiks hiks.. saya hanya bisa berbangga karena ide-ide liputan dari saya sudah ditayangkan.. tapi, sudahlah.. paling tidak cita-cita saya paling muluk sudah dapat saya rasakan, yaitu jadi orang bahagia.. (halah… relatif lho!)

ya begitulah, cuman itu keberuntungan saya, ternyata saya masih bebas, tanpa ada batas jam kantor.. walau sudah jelas, saya tak ada pekerjaan, tanpa slip bulanan, tanpa bonus, tanpa asuransi dan jaminan kredit, tanpa ID Card, tanpa seragam, tanpa uang makan-transportasi harian, tanpa absen, dan tentu saja tanpa “wer ewer ewer ewer” te ha er!!

PS: “wer ewer ewerewer”… bila anda pernah naik kereta jakarta-jogja pasti anda sudah tahu ini. “ewer ewer” ini saya kutip dari pengamen (maaf) waria di kereta api jurusan jogja-jakarta — stasiun wates s/d purwokerto (pp) — kira2 menjelang lebaran 2006..
akhir januari di jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s