gumun in Sinar Harapan Sabtu, 21 Februari 2004

Paling Akhir, tapi Juga Paling Awal
Oleh Eka Darmaputera

HARI INI kita tiba di stasiun akhir kita. Ya, setelah melalui rangkaian perjalanan yang cukup panjang.
Sadarkah Anda berapa ”halte” yang telah kita singgahi? Tak kurang dari 36 buah (renungan)! Perjalanan jauh pasti kadang-kadang membosankan. Namun harapan saya adalah, semoga banyak pula berkatnya. Bagaimana pun, kita perlu dingatkan dan diperingatkan selalu, tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh kita perbuat. Agar hidup kita selamat sentosa. Di dunia ini maupun di akhirat nanti.
Perintah Allah yang kesepuluh, atau yang terakhir, dalam Dasa Titah, lengkapnya berbunyi, ”JANGAN MENGINGINI RUMAH SESAMAMU; JANGAN MENGINGINI ISTRINYA, ATAU HAMBANYA LAKI-LAKI, ATAU HAMBANYA PEREMPUAN, ATAU LEMBUNYA ATAU KELEDAINYA, ATAU APA PUN YANG DIPUNYAI SESAMAMU” (Keluaran 20:17).
Anda perhatikankah betapa berbedanya titah ini dibandingkan dengan titah-titah sebelumnya? Titah kesatu sampai Titah kesembilan, semuanya menyangkut tindakan manusia ke luar dirinya.
Umpamanya: menduakan Allah, mendurhakai orangtua, mencelakai sesama. Tapi hukum X ini berbeda. Ia berbicara mengenai apa-apa yang sebenarnya masih tersimpan rapat-rapat di dalam hati dan benak manusia . Belum sempat keluar dan merugikan siapa-siapa. Namanya, sebut saja, DOSA KEINGINAN.

JADI ”keinginan” adalah dosa? Benarkah ini? Saya kira banyak orang akan berkata, kira-kira, ”Okelah, bila ”keinginan” mau disebut ”dosa” juga. Tapi jelas sekali, ia pasti jauh lebih ”enteng” dibandingkan dengan dosa-dosa lainnya”.
Abdu jatuh hati dan mabuk kepayang berat terhadap si cantik Aminah. Sayang sekali, wanita molek itu kini telah menjadi istri Ahmad. Akibatnya, hasrat ya sekadar tinggal hasrat.
Namun toh keinginan untuk memiliki Aminah tak mereda. Bukan keinginan yang mulia, mungkin. Tapi bandingkanlah itu dengan apabila si Abdu lalu benar-benar tak kuat menahan diri, dan kemudian menyelingkuhi Aminah. Mana, hayo, dosa yang lebih ”berat” di antara keduanya?
Sebab itu, menyangkut titah kesepuluh, persoalan intinya adalah, ”Apa sih salahnya menginginkan sesuatu, selama itu ”cuma” atau ”baru” berbentuk keinginan?”. ”Masa iya sih, kepingin saja kok dilarang? Pokoknya ‘kan asal tidak melakukan yang macam-macam, bukan?”

TAPI benarkah ”dosa keinginan” memang lebih ”enteng”, lebih ”sepele”, dibandingkan dengan dosa-dosa lain? Benarkah bila orang mengatakan, toh ”baru keinginan” atau ”cuma keinginan”, karena itu masih oke-lah!? Menurut pengamatan dan pengalaman saya, ternyata ”tidak”.
Mempunyai ”keinginan” adalah satu hal. Tidak ada satu pun yang salah di sini. Bahkan alangkah malangnya orang yang telah kehilangan semua keinginannya: keinginan hidup, selera makan, hasrat seksual, dan seterusnya.
Namun bila ”mempunyai keinginan” adalah satu hal, ”mengendalikan keinginan” adalah hal yang lain lagi. Padahal, keduanya tak terpisahkan. Mempunyai selera makan itu merupakan tanda kehidupan, tapi tak mampu mengendalikannya adalah jalan kematian. Memiliki hasrat seksual membuat hidup bergairah, tapi bagi seorang ”sex maniac” hidup ini tak pernah memuaskan.
Sulit benarkah mengendalikan keinginan? Sebenarnya sih tak sulit-sulit amat. Tapi mesti lewat prosedur. Mengontrol tindakan menjadi relatif mudah, setelah kita berhasil melewati proses yang jauh lebih sulit. Yaitu apa? Yaitu proses mengendalikan pikiran, menguasai perasaan, serta mengontrol emosi.
Apabila kita berhasil menyeleksi dan menyaring mana yang pantas kita ingini, dan mana yang tidak. Hukum ke-X pada hakikatnya berbicara mengenai itu: apa yang boleh dan apa yang tidak boleh kita ingini.

DALAM kebijaksanaan Jawa, disebutkan tentang tiga hal yang sebaiknya jangan kita lakukan. Yang pertama adalah ojo kagetan. Artinya, jangan mudah terkaget-kaget. Sebaliknya, berusahalah tenang selalu. Rustig! Sebab keputusan yang bijak hanya dapat diambil dengan kepala dingin. Bukan dengan terkaget-kaget.
Pantangan kedua, adalah ojo gumunan. Artinya, jangan mudah dibuat takjub dan terpesona oleh apa pun juga. Jangan gampang kepincut. Periksalah segala sesuatu terlebih dahulu secermat-cermatnya, dan pertimbangkan sematang-matangnya! Periksa betul emas-loyangnya. Hanya dengan begitu, Anda bisa terhindar dari ranjau-ranjau kehidupan yang tersebar di mana-mana.
Dan ”ojo” yang ketiga, adalah: ojo pinginan. Jangan mudah kepingin. Sebab makin banyak keinginan, makin besar pula tekanan untuk melakukan kejahatan. Bila Anda tidak secuilpun pernah punya keinginan menjadi sekaya Sultan Brunei maka, percayalah, potensi Anda untuk korupsi adalah jauh lebih kecil dibandingkan orang yang terobsesi untuk harus bisa menjadi sekaya Oom Liem atau malah Bill Gates.
Bila keinginan di hati saja sudah keji maka, semua yang kita pikirkan adalah pikiran yang keji; semua yang kita rasakan adalah perasaan yang kotor; semua yang kita lihat adalah pemandangan yang porno; dan semua yang kita dengar adalah rayuan-rayuan ”ngeres”. Keinginan hati membentuk cara pandang. Dan cara pandang tertentu pada gilirannya akan melahirkan tindakan tertentu pula.
Karena itu bunuhlah ular selagi masih telur! Padamkan api begitu ia mulai menyala! Tambal segera perahu yang bocor sebelum keburu besar! Bunuhlah keinginan yang kotor, sebelum sempat berbuah jadi tindakan! Itulah, saudara, semangat dan hikmah yang paling hakiki dari hukum kesepuluh ini. Singkatnya: memiliki keinginan tidak dengan sendirinya merupakan kejahatan. Ya! Tapi soalnya: ingin apa?

ANDA pasti ingat peristiwa tatkala Yesus memberikan briefing kepada murid-murid-Nya, bahwa tiba saatnya mereka bersama-sama akan melakukan perjalanan terakhir ke Yerusalem. Para murid diberitahu, bahwa di kota tujuan itu telah menunggu suatu rangkaian siksa dan aniaya yang panjang. Bahkan maut. Dengan perkataan lain, perjalanan kali ini adalah perjalanan menyongsong maut!
Astagafirulah, lha maut kok malah dihampiri, tidak dihindari?! Alangkah absurdnya! Bahwa pada satu saat setiap orang akan mati, oke, itu memang apa boleh buat. Tapi bila saat itu tiba, biarlah maut itu yang menyongsong kita, bukan kita yang malah menjemput dia. Dan selama perjumpaan itu masih bisa dihindari, ya dihindarilah! Apakah jalan pikiran Anda juga begitu?
Karena itu didasari oleh nalar yang jelas, serta didorong oleh motivasi kasih yang bersih, Petrus – mewakili kita semua – berteriak spontan, ”Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau!” (Matius 16:22).
Tapi tanpa terduga, Yesus justru bereaksi amat keras — kalau tidak terlampau keras — terhadap ungkapan kasih, kepedulian dan solidaritas yang tulus dari murid-Nya itu. Ia balas menghardik — saya bayangkan dengan mata menyala – ”Enyahlah Iblis! Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah melainkan apa yang dipikirkan manusia” (Matius 16:23)
Mengapa reaksi yang berlebih-lebihan dan di luar proporsi ini? Pasti bukan karena Yesus tak ingin dikasihi. Pasti pula bukan karena Ia sudah begitu rindu mencari mati. Kemarahan-Nya bukan Ia tujukan pada Petrus pribadi. Tapi kepada Iblis, yang Yesus tahu benar ada di balik semua ini. Iblis dengan taktiknya yang baku: menawarkan racun bersalut madu.
Racun apa? Racun ”ingin selamat”! Racun ”cari aman”! Racun ”mempertahankan hidup, apa pun taruhannya”! Yesus tidak mau kecenderungan yang amat naluriah ini meracuni ”keinginan”-Nya yang suci.
Yesus – seperti kita – tentu saja ingin hidup – aman dan nyaman. Namun, keinginan ini tidak boleh menjadi keinginan yang nomor satu, apa lagi satu-satunya! Tidak! Keinginan apa pun harus ditundukkan di bawah SATU-SATUNYA KEINGINAN yang pasti benar. Yaitu keinginan untuk menaati Allah sepenuh-penuhnya.
Bagi Yesus, ”Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku, dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yohanes 4:34). Kini Ia tahu benar bahwa Allah sedang menuntut ketaatan yang penuh dan mutlak, untuk Ia menapaki jalan derita, memanggul salib, sampai mati di Golgota. Tapi di kutub lain, Ia pun tahu, betapa Iblis juga berusaha keras menggagalkan missi itu. Caranya adalah dengan memanipulasi keinginan yang paling alamiah yang ada pada manusia. Keinginan untuk tetap hidup dan menghindari mati..
Satu-satunya cara untuk menangkal perangkap Iblis hanya ini: bunuhlah segera keinginan – betapa pun wajar kelihatannya – sekiranya kita tahu bahwa itu akan menghalangi kita menaati sepenuhnya kehendak-Nya! Tanpa perlu ada diskusi lagi! Tanpa mesti pikir panjang-panjang lagi!
Di sinilah, saudara, perjuangan ketaatan itu berawal. Yaitu, pada menata, menyeleksi, menyaring keinginan kita. Supaya yang kita ingini hanyalah keinginan-keinginan suci yang menyehatkan dan menyejahterakan. Bukan keinginan-keinginan kotor yang memikat, tapi pasti mencelakakan.
Jadi walau ia diletakkan terakhir dalam Dasa Titah, ”mengendalikan keinginan” haruslah menjadi yang paling pertama dalam strategi perjuangan iman kita. Nah, Anda ingin apa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s