tentang apa

sebelum kau pertanyakan apa yang ku beri, pertanyakan saja apa yang kau minta kepadaku…

semoga kau benar


semoga kau benar,
kepak ilusi hidup
menyusur jalan surga
dalam permainan kata
pada cerita sebegitu nyata

semoga kau benar,
sebegitu maya
baris fantasi
mencangar airmata
menoreh tawa luka

semoga kau benar,
kau kepak bait asa
dirikan baris kalimat
menderet paragraf
pada tembok pagar rumah

semoga kau benar,
pagar itu terbaca tanda tanya
pagar halamanmu begitu tinggi
tak bisa terlihat
hanya terbaca logika
hanya terkais cerita
satu demi satu
hingga ada penyimpulan
dan tak akan terungkapkan..

semoga kau benar,
maaf, tak ada basa-basiku
semoga kuasa-Nya menjawab

akhirnya,
semoga kau benar..

*untuk sebuah misteri*

hujan masih malu-malu

rabu malam, 8 Oktober 2008, hujan mengguyur hampir hampir seluruh jogja, tak terkecuali wilayah gunung kidul. ya, ini adalah kali kedua setelah dua minggu lalu hujan merintiki jogja. tapi tidak bagi wilayah gunung kidul itu. hujan malam itu adalah kali pertama terjadi di (mungkin) akhir musim kemarau kali ini. maklum saja, di musim itu wilayah yang ada di tenggara propinsi daerah istimewa yogyakarta itu begitu gersang meranggas.

keesokan harinya, di gunung kidul itu saya bertemu dengan warga sana, sebut saja namanya pak kardi. wajahnya bersemangat. tampaknya ia hendak ke kota terdekat. “mau beli bibit padi di patuk, mas..” begitu katanya.

patuk adalah sebuah kota kelas kecamatan di gunung kidul. letaknya paling pinggir dan terdekat dengan kota jogja. dengan sepeda motornya, bapak berumur 55 tahun itu pun bergegas menuju toko bibit padi untuk sawahnya.

satu musim kemarau kemarin, praktis sawah pak kardi itu nganggur. lahannya yang tipikal sawah tadah hujan itu di’bero’kan atau tidak di ditanami apa-apa. di’cuek’in..🙂 tak ada yang banyak dilakukan untuk sawahnya itu. penantian datangnya hujan adalah harapan. lantas, apa yang pak kardi lakukan di kala kering begitu?

ia mengolah satu sawah yang ada di salah satu daerah lembah. luasnya lebih sempit, tapi beruntung terdapat aliran air karenan dekat dengan “tuk”, sumber mata air tanah. tak ada soal suplai air akibat perubahan musim.

berbeda dengan beberapa orang lainnya. di musim kemarau, mereka banyak beralih fungsi. ada yang menjadi jualan kayu bakar, membuat arang, dan buruh apa saja di kota.

dan kini, hujan yang nampaknya masih malu-malu itu sudah menyapa mereka. meski begitu, itu cukup melegakan mereka. semoga hujan itu tak lagi malu-malu..

foto pinjam tanpa ijin dari sini. maaf.

1429 H

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H

Minal Aidin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin

santet!

santet! hemm.. sampeyan boleh percaya dan boleh juga ndak percaya. perkara ini memang sulit dibuktikan dalam ranah pengetahuan logis. namun, ketika mendengar nama ‘santet’, kelu rasanya. membayangkan paku, kawat, dan lain sebagainya di’mampir’kan ke dalam perut.. oughh, mules!

tapi.. ada saja yang membuat saya tersenyum. seperti obrolan berikut ini.

teman (ts): boleh tanya ndak?
saya (s): silakan..
t: punya info dukun ampuh ndak?
s: lhah?
t: saya mau nyantet orang nih..
s: weiittss? :-O
t: iyaa…. perutnya mau tak masuki henpon yang bisa getarr jee
s: lhoo?😀
t: habis itu tak miskol-miskol.
s: hahahahassyuuiikk!
t: =))

menurut sampeyan, selain henpon, diisi apa lagi ya? biar seru..

rumahnya di mbogor bukan sedalam 3 meter

minggu lalu saya mengantar sepasang wartawan tipi (1 reporter dan 1 kameramen). mereka meliput rekonstruksi dan penggalian candi losari di wilayah salam magelang jawa tengah.

setelah sedari pagi nyotang-nyoting, tiba waktu istirahat siang. kebetulan banget, jarak antara tempat parkir kendaraan kami dengan lokasi penggalian lumayan jauh. apalagi, cuaca hari itu puanasnya pol-polan. kami pun berjalan berbondong-bondong (halahh…) menuju ke lokasi parkir untuk kemudian makan siang dan istirahat sejenak.

saya dan mas kameramen kebetulan berjalan duluan. sedangkan mas reporter itu masih asik tanya-tanya dengan salah satu arkeolog.

ndak tahan dengan saking panasan siang itu, kami pun berteduh di salahsatu teras rumah di mana ada seorang nenek sedang duduk di sana.

ndherek ngeyup nggih, mbah..” begitu ucap saya sama mbahnya itu. (numpang berteduh ya, mbah..)

lha monggo pinarak..” ucap simbah itu ramah. (lha mari silakan..)

saya dan mas kameramen itu lalu duduk di sebelah nenek tadi. lalu nenek bertanya kepada mas kameramen tadi.

dalemipun tebih, nak?” (rumahnya jauh, nak?)

mas kameramen yang ndak bisa basa jawa itu manjawab. “iya.. dalemnya 3 meter.. bentuk candinya juga sudah kelihatan..”

lhooo??? mas.. mbahnya tadi nanyaknya bukan soal itu.. tapi, rumah sampeyan jauh kah?

owh.. iya, mbah.. saya dari bogor..” begitu ralatnya

ooo.. dari mbogor to? langkung tebih niku nak.. celak mbandung nggih?” (ooo.. dari bogor to? cukup jauh itu nak.. dekat bandung ya?

inggih mbah, saking mbogor.. kaliyan mbandung nggih lumayan tebih.. trus mase ingkang meniko saking mbangka.. menawi kulo saking sleman sanes mbantul.. ” jawab saya ketika kebetulan mas reporter itu datang menghampiri kami. (siapa nanyak??)

(iya mbah, dari bogor.. sama bandung ya lumayan jauh.. trus masnya yang ini dari bangka.. kalo saya dari sleman, bukan bantul..)

mbah dan kami pun tersenyum senang..

bukan flash gordon

memasuki bulan kedua ini, koneksi telkomselflash saya rada meradang, kempis-kempis dan……akhh…… kenapa ya? sampeyan tahu kah?

ngopo to mbah? mbok ya nrimo aja, murah kok njaluk apik! (kenapa sih mbah? mbok ya terima aja, murah kok minta bagus!)

nrimo sih nrimo, mas.. layanan koneksi internet dari telkomsel ini memang relatif murah. tapi kalo mbikin senewen begini trus gimana?

lha embuhh

horotoyohhh…