suatu siang..
“mbak, saya (bla..bla..bla..) bolehkah saya memperoleh informasi tentang narasumber itu?” pinta saya sama mbak berbaju putih.
“wah, maaf mas.. saya tidak boleh sembarangan memberikan informasi tentang mereka,” jawab mbak itu. agak curiga dengan tampang saya yang kyusyut a.k.a. semrawut ini. setelah itu gantian saya yang ditanya-tanyain. “huh, kayak pulisi aja nih” saya mbatin gitu.
beberapa hari kemudian, saya mengantarkan teman researcher dari jakarta ke mbak berbaju putih itu. dan tentu saja, dengan pertanyaan yang sama. perlu sampeyan tau, teman saya itu perempuan indo (bapak bule dan simboknya orang jawa), pintar, dan bertampang londo cantik.
hasilnya? menurut saya cukup luar biasa… selain jawaban yang didapat pun berbeda, teman londo itu dilayani sampai diantar sampai rumah narasumber itu. asyeemm tenan kii
akhirnya, ruang dan waktu memang kejam. saya, teman londo saya, dan mbak (berbaju putih itu) bertemu. “ooo.. jadi kalian ini ’sama’ ya?” begitu seringainya pada kami.
kami senyum-senyum saja dan saya pun menjawab bohong, “endak kok, mbakyu.. meski dalam topik yang sama, tujuan kami berbeda kok..”
ahaa.. skor kibulan pun menjadi imbang. 1-1.. tapi tetap saja, kami (dan terutama saya) bernyanyi, ‘o.. oo… aku ketauan..‘
sodara2,
yang jelas, saya cukup tergumun dengan sikap mbak baju putih itu.. kenapa beda ya? apa karena saya ini orang lokal? tinggal di daerah pula..
ah, mbuh ah..



