
saya agak tergumun ketika membaca berita foto di harian terbitan jakarta ini. berita foto di halaman 2 memberitakan tentang konvoi ratusan motor gede (moge) pada hari minggu, 11 maret 2007. secara visual terlihat motor-motor gede itu memenuhi hampir seluruh jalan.. saya jadi membayangkan deru swara kenalpot dan gagahnya penunggang motor buatan amrik itu.. wuih, sangaaar… di desa ndak ada motor segedhe itu.. yang ada paling beberapa model BSA saja. itupun buatan jaman moyang dulu..
tapi ketika membaca caption foto di bawahnya, tiba-tiba mak jegageg.. saya jadi makin tergumum lagi..
Ratusan Motor Gede (Moge) konvoi berkeliling jalan protokol ibukota, Minggu (11/3), dan masuk Museum Rekor Indonesia (MURI). Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso ikut konvoi dengan mengendarai Harley Davidson melintas di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Konvoi sekaligus sebagai kampanye ketertiban sebagai pengendara kendaraan bermotor. (rihadin)
sebenernya niatnya harus kita acungi jempol, moge berkampanye soal ketertiban sebagai pengendara? karena selama ini image pengendara moge agak negatif dan arogan..
saya makin gumum-aneh.. lha foto di atas ndak menunjukkan hal bisa dicontoh.. lihat saja, seluruh jalan penuh moge kok.. mana yang tertib ya? hehehe.. saya ndak tau, apa ada pengendara jenis motor lain di belakangnya, mungkin saja cuma bisa menggerutu dan harus bersabar menunggu giliran untuk lewat..
selain itu, sejauh saya tau, di manapun itu, ketika ada serombongan moge melintas, pasti pengendara lain musti ngalah. harus minggir, atau berhenti dan mempersilakan mereka lewat dulu.. mobil mewah aja mengalah, apalagi pengendara motor bebek?? lhadalah.. kenapa bisa begitu ya?
soal muri, di sini saya ndak tau rekor yang mau dibuat yang mana? dan saya ndak gumun soal muri itu dan ndak akan mbahas soal muri itu.. pikir saya, orang punya duwit pasti bisa bikin rekor.. (sampeyan pasti mbatin, masak sih, mbah?)
tapi, iya kan? dari harganya saja (yang lebih dari harga 4 petak tanah di desa saya), pasti yang punya motor ber-cc gedhe ini bukan sembarang orang. pasti wong sugih, begitu istilah jawanya. dan ini jadi mbatin.. wah, “sing sugih sing diconto” (yang kaya yang dicontoh).. lhahh???
melihat foto di atas (jalanan yang padat), apa iya konvoi tersebut bisa jadi contoh soal tertib bagi pengendara motor? lagian, tidak setiap hari mereka turun ke jalan beton (dan aspal) di ibukota ini.. sederhananya, siapa sih pengendara motor yg sebenarnya? siapa hayooo?
ps: pembacaan saya atas berita photo itu barangkali salah.. kalo salah harap maklum..



