pi ar, proyek, dan wartawan
Seorang teman yang bekerja sebagai pi ar di salah perusahaan besar bercerita tentang pekerjaan jurnalistiknya. Sambil malu-malu ia mengucapkan, “Jurnalisme gaya baru, jurnalisme proyek!” Wah? Gaya baru? Tapi yang lebih menggumunkan saya adalah prosesnya. Nggak tangung-tanggung, semua dikerjakan sendiri. Single fighter! “Hebat sekali sampeyan,” puji saya kepadanya.
“Namanya juga proyek, jurnalisme juga jurnalisme proyek,�� jawabnya dengan enteng. Mulai dari mengumpulkan bahan/data/photo, menulis, mengedit, melayout, mencetak sampe mendistribusikan. Semua dikerjakan sendiri. Wah? Hebat sekali.. Sekarang saya gumun ironis.
Kok proyek? Jurnalistik yang dikonotasikan kayak begini ini yang jadi negatif. Pikir saya, meski saya tidak mau apriori soal motif lain, tapi bagaimana pembaca? Dibodohi, kan? (Halah… kok pede sekali sih saya!)
Karena baru kemaren saya mbaca tulisan teman baru, venus soal yang mengaku bahwa blogger = wartawan palsu. Maka media ini, yang sedang Anda baca ini, adalah media palsu pula. So, jangan ambil pusing..
hemm.. gumunan saya beranjak serius dikit..
Kerja proyek pasti bukan pekerjaan primernya alias sampingan. Kenapa bisa terjadi? Semua instansi/perusahaan sekarang punya media sendiri-sendiri. Barangkali ini counter terhadap dominasi reporting a la wartawan asli. Emangnya sudah gak bener mengerjakan laporan? Kalaupun iya, kenapa bisa terjadi? Atau, apa ada yang salah dengan profesionalisme wartawan Indonesia? hemm
Republik BBM pernah mengutip hasil sebuah penelitian tentang wartawan Indonesia. Kultur amplop, prosentase wartawan yang mengaku mau menerima amplop jauh lebih banyak daripada yang mengaku menolak. Profil ekonomis dari profesi ini juga cukup mengejutkan. Dibandingkan dengan penghasilan tahunan wartawan Amerika, wartawan ‘asli’ dari Indonesia (relatif) kecil. $43.000an : $4.300an per tahun. Boleh jadi, gaji sebulan wartawan Amerika sama dengan gaji setahun wartawan Indonesia. Wartawan Indonesia juga memiliki kerja sambilan. (hal terkait dengan data coba sampeyan tanya aja pada pak dosen Komunikasi Politik Universitas Indonesia yang juga Konsultan Presiden di Republik BBM – MetroTV)
Dari sini bisa kita bayangkan bagaimana tragis kenyataan ekonomi wartawan Indonesia. Seorang pemimpin redaksi — sebuah media jurnal di Indonesia — pun memberikan sanggahannya (di acara “Republik BBM” itu juga). Menurutnya, kalau mau kaya ya jadi pengusaha saja. Ah, karena yang ngomong pemimpin redaksi, maka saya nggak percaya 100%. Tapi kalo wartawannya yang ngomong saya angkat jempol 4! Salute!
Kembali ke jurnalisme proyek. Istilah proyek barangkali berbanding lurus dengan wajah negeri ini. Namanya juga negara ketiga yang banyak bencana, proyek ada di mana-mana. Tidak melulu di tataran fisik tapi juga manusianya, alam pikirannya. Bagai sebuah robot, masyarakat seakan terpermak dengan sengaja. Bahasa kerennya dikonstruksi. Nah, barangkali itulah fungsi dari istilah ‘jurnalisme proyek’ dari teman pi ar tadi.
Hubungan dunia pi ar dengan dunia kewartawanan informasi pun berjalan “mesra”. (meski tidak semua wartawan lho) Keberadaan konsultan pi ar menguntungkan bagi perusahaan-perusahaan. Perusahaan besar tak perlu lagi repot mengurus wartawan sebagai stakeholdernya. Semua sudah diatur oleh konsultannya. Wartawan kini telah dimanjakan. Wartawan tak perlu lagi capek-capek ‘mengendus’ fakta bernilai berita untuk dijadikan informasi dan wacana bagi masyarakat. Boleh jadi sudah terima mateng. Nggak perlu repot, konsultan pi ar sudah mengkonstruksi wacana. Selain itu bisa ngatur kapan informasi harus digulirkan, nge-cut dan sejenisnya. Pi ar punya kekuatan. Untuk apa? Ya, corporate image. U la la… Dan pi ar sudah menjalankan profesionalitasnya.
Ini contohnya blog yang dikirim oleh blog sebuah konsultan pi ar terkemuka di Indonesia:
Launching AAS 2007
Anugerah Adiwarta Sampoerna 2007 telah diluncurkan, pekan lalu kami mengirimkan informasi pers kepada rekan-rekan jurnalis dan fotojurnalis. Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi kami di 021 727 ******
Dan jika ini benar, pun gayung bersambut. Menurut, ndoro kakung, ndoronya (baca: juragan) blogger terkemuka di Indonesia, wartawati sebuah televisi swasta yang bikin heboh dengan personal report dalam blog-nya pun ternyata juga bekerja pada konsultan pi ar. (Karena keterbatasan saya dalam berburu informasi, yang ini saya agak ragu, apa iya kerja pada media dan konsultan pi ar, atau ??? halah)
Ya, tugas rutinnya adalah merangkai kejadian ke dalam barisan kata, urutan paragraph dan akhirnya menjadi tulisan ato berita. Rutinitas senada juga ada di media televisi. Mereka memiliki fungsi sebagai pendidik, informan, dan penghibur. Ia hidup dan bertempur dalam kancah jurnalisme. Jenis pekerjaannya namanya jurnalistik. Dan sebaiknya beretos melawan racun yang bertajuk amplop, seperti kata Sri Nanang dan teman saya yang saat ini masih berjuang dari derita magang.
Tapi ternyata tidak semua yang memproduksi berita dan wacana adalah wartawan. Pi ar… welcome to the jungle…
ps: kegumunan ini adalah sekadar oleh gumun menatap peradaban. jangan sekali-kali dianggap sebagai satu kebenaran. bisa jadi anda akan tersesat.. halah..



