gumun + tergumun-gumun = gumunan

pi ar, proyek, dan wartawan

February 13, 2007 · 8 Comments

pi ar, proyek, dan wartawan

Seorang teman yang bekerja sebagai pi ar di salah perusahaan besar bercerita tentang pekerjaan jurnalistiknya. Sambil malu-malu ia mengucapkan, “Jurnalisme gaya baru, jurnalisme proyek!” Wah? Gaya baru? Tapi yang lebih menggumunkan saya adalah prosesnya. Nggak tangung-tanggung, semua dikerjakan sendiri. Single fighter! “Hebat sekali sampeyan,” puji saya kepadanya.

“Namanya juga proyek, jurnalisme juga jurnalisme proyek,�� jawabnya dengan enteng. Mulai dari mengumpulkan bahan/data/photo, menulis, mengedit, melayout, mencetak sampe mendistribusikan. Semua dikerjakan sendiri. Wah? Hebat sekali.. Sekarang saya gumun ironis.

Kok proyek? Jurnalistik yang dikonotasikan kayak begini ini yang jadi negatif. Pikir saya, meski saya tidak mau apriori soal motif lain, tapi bagaimana pembaca? Dibodohi, kan? (Halah… kok pede sekali sih saya!)

Karena baru kemaren saya mbaca tulisan teman baru, venus soal yang mengaku bahwa blogger = wartawan palsu. Maka media ini, yang sedang Anda baca ini, adalah media palsu pula. So, jangan ambil pusing..

hemm.. gumunan saya beranjak serius dikit..

Kerja proyek pasti bukan pekerjaan primernya alias sampingan. Kenapa bisa terjadi? Semua instansi/perusahaan sekarang punya media sendiri-sendiri. Barangkali ini counter terhadap dominasi reporting a la wartawan asli. Emangnya sudah gak bener mengerjakan laporan? Kalaupun iya, kenapa bisa terjadi? Atau, apa ada yang salah dengan profesionalisme wartawan Indonesia? hemm

Republik BBM pernah mengutip hasil sebuah penelitian tentang wartawan Indonesia. Kultur amplop, prosentase wartawan yang mengaku mau menerima amplop jauh lebih banyak daripada yang mengaku menolak. Profil ekonomis dari profesi ini juga cukup mengejutkan. Dibandingkan dengan penghasilan tahunan wartawan Amerika, wartawan ‘asli’ dari Indonesia (relatif) kecil. $43.000an : $4.300an per tahun. Boleh jadi, gaji sebulan wartawan Amerika sama dengan gaji setahun wartawan Indonesia. Wartawan Indonesia juga memiliki kerja sambilan. (hal terkait dengan data coba sampeyan tanya aja pada pak dosen Komunikasi Politik Universitas Indonesia yang juga Konsultan Presiden di Republik BBM – MetroTV)

Dari sini bisa kita bayangkan bagaimana tragis kenyataan ekonomi wartawan Indonesia. Seorang pemimpin redaksi — sebuah media jurnal di Indonesia — pun memberikan sanggahannya (di acara “Republik BBM” itu juga). Menurutnya, kalau mau kaya ya jadi pengusaha saja. Ah, karena yang ngomong pemimpin redaksi, maka saya nggak percaya 100%. Tapi kalo wartawannya yang ngomong saya angkat jempol 4! Salute!

Kembali ke jurnalisme proyek. Istilah proyek barangkali berbanding lurus dengan wajah negeri ini. Namanya juga negara ketiga yang banyak bencana, proyek ada di mana-mana. Tidak melulu di tataran fisik tapi juga manusianya, alam pikirannya. Bagai sebuah robot, masyarakat seakan terpermak dengan sengaja. Bahasa kerennya dikonstruksi. Nah, barangkali itulah fungsi dari istilah ‘jurnalisme proyek’ dari teman pi ar tadi.

Hubungan dunia pi ar dengan dunia kewartawanan informasi pun berjalan “mesra”. (meski tidak semua wartawan lho) Keberadaan konsultan pi ar menguntungkan bagi perusahaan-perusahaan. Perusahaan besar tak perlu lagi repot mengurus wartawan sebagai stakeholdernya. Semua sudah diatur oleh konsultannya. Wartawan kini telah dimanjakan. Wartawan tak perlu lagi capek-capek ‘mengendus’ fakta bernilai berita untuk dijadikan informasi dan wacana bagi masyarakat. Boleh jadi sudah terima mateng. Nggak perlu repot, konsultan pi ar sudah mengkonstruksi wacana. Selain itu bisa ngatur kapan informasi harus digulirkan, nge-cut dan sejenisnya. Pi ar punya kekuatan. Untuk apa? Ya, corporate image. U la la… Dan pi ar sudah menjalankan profesionalitasnya.

Ini contohnya blog yang dikirim oleh blog sebuah konsultan pi ar terkemuka di Indonesia:

Launching AAS 2007
Anugerah Adiwarta Sampoerna 2007 telah diluncurkan, pekan lalu kami mengirimkan informasi pers kepada rekan-rekan jurnalis dan fotojurnalis. Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi kami di 021 727 ******

Dan jika ini benar, pun gayung bersambut. Menurut, ndoro kakung, ndoronya (baca: juragan) blogger terkemuka di Indonesia, wartawati sebuah televisi swasta yang bikin heboh dengan personal report dalam blog-nya pun ternyata juga bekerja pada konsultan pi ar. (Karena keterbatasan saya dalam berburu informasi, yang ini saya agak ragu, apa iya kerja pada media dan konsultan pi ar, atau ??? halah)

Ya, tugas rutinnya adalah merangkai kejadian ke dalam barisan kata, urutan paragraph dan akhirnya menjadi tulisan ato berita. Rutinitas senada juga ada di media televisi. Mereka memiliki fungsi sebagai pendidik, informan, dan penghibur. Ia hidup dan bertempur dalam kancah jurnalisme. Jenis pekerjaannya namanya jurnalistik. Dan sebaiknya beretos melawan racun yang bertajuk amplop, seperti kata Sri Nanang dan teman saya yang saat ini masih berjuang dari derita magang.

Tapi ternyata tidak semua yang memproduksi berita dan wacana adalah wartawan. Pi ar… welcome to the jungle

ps: kegumunan ini adalah sekadar oleh gumun menatap peradaban. jangan sekali-kali dianggap sebagai satu kebenaran. bisa jadi anda akan tersesat.. halah..

Categories: cerito

Bertani Itu Menyenangkan…

February 13, 2007 · 2 Comments

wah, tetangga dusun saya masuk koran Kompas – Edisi Jogja, 12 Februari 2007..

Aktivitas Anak
Bertani Itu Menyenangkan…

“Jangan injak tanaman padinya ya!” seru Pak Guru pada murid- muridnya. Meski mendengar peringatan itu, kaki-kaki telanjang anak- anak pun tak luput menginjak padi-padi yang masih hijau. Tanpa beban, kaki-kaki mungil tersebut dibenamkan lebih dalam ke lumpur.

Albertus Bawa Sungkono, “Pak Guru”, pagi itu pun tak bisa berbuat banyak menghadapi antusiasme para siswa kelas III SD Tarakanita Bumijo, Yogyakarta, di lahan sawah miliknya. Meski begitu, senyum dan keramahan tetap terpancar di wajahnya.

Minggu (11/2), petani dari Dusun Brayut, Pendowoharjo, Ngaglik, Sleman, itu menjadi guru yang juga teman belajar anak-anak untuk mengenal lebih dekat profesi petani, sekaligus alam pedesaan. Kegiatan yang dilakukan tak hanya nyemplung ke sawah semata.

Semua berawal dari alam beserta makhluk hidup yang ada di sekitarnya. Konsep ini diperkenalkan pada anak-anak sejak awal “tur” pertanian mereka. Mendampingi satu kelompok yang terdiri atas 17 anak, Bawa pertama-tama mengajak mereka memasuki kandang sapi. Bukan hanya binatang biasa, anak-anak diberi pengertian bahwa sapi merupakan binatang yang sangat berharga, pemelihara kelangsungan hidup padi. Dari kotoran cair dan padatnyalah tanaman memperoleh makanan.

Tak semua anak antusias mendengar penjelasan itu memang. Namun, begitu kesempatan memegang dan memberi makan sapi diberikan, semua asyik berdekat-dekat dengan sapi perah milik Bawa. “Seneng, baru pertama kali ini pegang sama ngasih makan sapi sendiri,” kata Albert. Cara memerah susu yang diajarkan Bawa menarik perhatian anak- anak. Kamera digital dikeluarkan untuk mengabadikan momen yang jarang dilihat sehari-hari itu.

Dari kandang sapi, anak-anak yang pagi itu mengenakan celana pendek bersendal jepit dibimbing untuk mencari tanaman pegagan di sekitar sawah. Beberapa anak tanpa ragu mengais tanah untuk menemukan pegagan. Ada pula orangtua yang ikut turun mencarikan pegagan untuk anaknya.

Pegagan ini lalu dimasukkan ke dalam gelas plastik untuk selanjutnya diisi top soil atau lapisan tanah teratas yang ada di bawah tumpukan daun bambu di atas Sungai Brayut. Hanya satu dua anak yang tak menyentuh tanah. Sebagian besar sudah mulai akrab dengan tanah dan tak lagi takut kotor. Sambil mengais tanah dengan jari, senda gurau tak lepas dari mereka.

Selama perjalanan melewati pematang sawah, Bawa menerangkan binatang-binatang sahabat petani seperti kecebong, katak, sampai cacing yang akan mati bila terkena insektisida. Penjelasan sederhana itu pun cukup efektif mendekatkan anak-anak pada binatang yang dijumpai di sekitar. Terbukti, kecebong yang sempat ditangkap dikembalikan lagi ke dalam sawah.

Dari atas sungai, mereka kembali lagi untuk mengisi pot plastik dengan pupuk kompos yang diproses dari kotoran sapi-sapi yang mereka beri makan di awal. Tak ada lagi kecanggungan ketika anak-anak itu memasukkan pupuk kompos dengan tangan mereka.

Tak berapa lama kemudian, kegiatan dilanjutkan dengan acara panen ubi. “Ubi ini tanaman selingan padi, nggak perlu dipupuk lagi karena tanah sudah subur,” kata Bawa, sebelum anak-anak kembali berjongkok asyik mengais tanah untuk berburu ubi jalar. Sorak girang muncul ketika ubi dengan ukuran besar bisa ditemukan.

Selesai memanen ubi, anak-anak tak sabar mengikuti kegiatan yang sudah ditunggu-tunggu: masuk ke sawah. “Pingin ke sawah sampai kebawa mimpi,” ujar Erni (36), menceritakan keinginan putrinya, Tiara. Tak mengherankan ketika tak ada yang menolak melepas sendal jepit untuk mengikuti Bawa masuk ke dalam lumpur di sawah.

Meski hanya beberapa jam, keasyikan tersebut cukup untuk memberi gambaran pada anak-anak bahwa bertani itu menyenangkan. Pemahaman awal yang diperlukan untuk proses lebih lanjut ialah penghargaan terhadap kerja keras petani dan ketertarikan untuk mendalami dunia pertanian nantinya…. (AB3)

Baca dari naskah asli, klik di sini.

PS:
sayangnya, ada yang salah di penulisan “….petani dari Dusun Brayut, Pendowoharjo, Ngaglik, Sleman….” yang bener adalah “Dusun Brayut, Pandowoharjo, Sleman, Sleman Yogyakarta“…
karena, dusun itu berada di Desa Pandowoharjo, Kecamatan Sleman, dan Kabupaten Sleman..

halah… opo to iki??? koyo media corrector wae…

Categories: cerito · media