gumun + tergumun-gumun = gumunan

IQ 143 dibawa ke psikiater: gara-gara ada angka 7 dalam raportnya.

February 10, 2007 · 9 Comments

hari ini saya dan salah satu teman baik saya ngobrol perihal hubungan hasil test IQ dengan raport. saya sangat tergumun-gumun dengan ceritanya, pengalaman teman saya itu. sampe-sampe saya nggedumel panjang labar tak tentu arah. sampe-sampe seolah-olah saya sedang memarahinya. kejadiannya kurang lebih 15 tahun lalu. djaman doeloe.. tempo doeloe…

djaman doeloe, teman saya bercerita bahwa gara-gara test itu, dia pernah dibawa ke seorang psikiater. waktu itu ia duduk di kelas 5 SD. berarti sekitar 15 tahun yang lalu. wah? saya pikir teman saya ini agak dol dari kecil. ternyata sebaliknya. bukan karena agak dol, tapi saking cerdasnya. lhadalah…

anak cerdas dibawa ke psikiater.
ceritanya begini, djaman doeloe, di sekolahnya diadakan test IQ. hasilnya, teman saya masuk kategori jenius, yaitu hasil 143. dan sampai sekarang pun saya mengakui soal kecerdasannya.

tapi, ternyata hasil 143 tidaklah membuat pihak sekolahnya merasa tenang. pasalnya, ada mata pelajaran nilainya 7. padahal, menurut teman saya itu, seharusnya anak dengan IQ setinggi itu harus minimal 8 atau 9. angka tujuh barangkali tabu, saya mbatin karena masih bingung dengan penjelasannya. wah? saya pikir itu tidak mutlak.. dan saya pikir pendapat itu bukan genuine milik teman saya itu. tapi lebih pada pendapat kepala sekolah dan guru yang merepotkan hasil angka 7..

menurut teman saya, IQ 143 adalah sebuah variabel/indikator penilaian di raport. jadi kalo ada angka dibawah 8, itu berarti ada yang tidak beres. kontan saya menyanggahnya.. “kayaknya tidak seperti itu deh,” sanggah saya.

sejauh saya tahu bahwa penilaian raport itu dinilai dari 1. hasil te ha be, 2. hasil ulangan, 3. tugas-tugas (pe er dan sejenisnya), dan 4. (jelas) penilaian subyektif guru di kelas… iya kan? kenapa sampai ke psikiater?

“sampai-sampai orangtua ibu saya dipanggil ke sekolah,” katanya seakan menggambarkan bagaimana waktu itu pak kepala sekolah dan gurunya dibuat kalang kabut. entah bagaimana jalan cerita penyelesaian kontroversi itu, akhirnya kepala sekolah dan gurunya sepakat kalo teman saya dibawa ke psikiater. duh biyung?

kekerasan terhadap anak: ekses panjang di kemudian waktu
saya jadi gumun dan prihatin dengan perlakuan yang diterima teman saya itu. menurut saya itu adalah kekerasan terhadap anak. entahlah, sepertinya termasuk kekerasan simbolik. saya jadi ingat, kalo nggak salah seorang filsuf perancis, Jean Paul Sartre dalam beberapa baris di bukunya, Psikologi Imajinasi, kurang-lebih mnyebutkan soal kecenderungan bahwa seorang psikiater seringkali menjustifikasi atau memberikan klaim-klaim atas satu masalah atau kepada seseorang. orang yang bersambat kepada psikiater itu pun meng-iya-kan sebagai kebenaran. ini barangkali yang terjadi. dan itu menimpa pada seorang anak berusia 11 tahun.. apalagi akhirnya disimpulkan bahwa nilai raport jelek itu karena teman saya suka menggambar (komik).. ‘saya jadi seperti terdakwa,’ katanya.

lhoh? anak kreatif kok salah! saya gumun lagi. saya jadi ingat teman saya mengadakan lomba melukis anak. tak disangka-sangka jumlah pesertanya melebihi yang diperkirakan. kenapa aktivitas menggambar teman saya justru ‘dimatikan’? saya berpikir bahwa di usia seperti itu saya lagi senang2nya maen lapangan, sepakbola, dan naik sepeda. entah benar apa tidak, menurut saya, pada seusia itu seorang ana belum cukup umur untuk dihadapkan dengan perdebatan soal kejiwaan. dan saya menyebutkan bahwa itu fase terbesar dalam hidupnya.

karena apa? peristiwa itu praktis akan selalu diingat. akan ada akibat negatif soal itu di kemudian hari.. sederhananya, minimal dia relatif lebih sulit menerima kegagalan yang diterimanya dan keberhasilan teman dalam usaha yang sama. test kerja misalnya. karena apa? blow-up jeniusitasnya mencetak pemikiran mengenai cara melihat orang2 di sekitarnya. cukup disayangkan bahwa kecerdasan dan kejeniusan luar biasa itu telah menjadi kontroversi di masa kecilnya.. itu menjadi monumen hidupnya. dan entah kenapa hasil menggambar komiknya yang masih ada dan tersimpan hingga saat ini tidak akan diperlihatkan kepada siapapun.

kenapa? guman dan gumun saya dalam batin,

Categories: cerito