
rabu malam, 8 Oktober 2008, hujan mengguyur hampir hampir seluruh jogja, tak terkecuali wilayah gunung kidul. ya, ini adalah kali kedua setelah dua minggu lalu hujan merintiki jogja. tapi tidak bagi wilayah gunung kidul itu. hujan malam itu adalah kali pertama terjadi di (mungkin) akhir musim kemarau kali ini. maklum saja, di musim itu wilayah yang ada di tenggara propinsi daerah istimewa yogyakarta itu begitu gersang meranggas.
keesokan harinya, di gunung kidul itu saya bertemu dengan warga sana, sebut saja namanya pak kardi. wajahnya bersemangat. tampaknya ia hendak ke kota terdekat. “mau beli bibit padi di patuk, mas..” begitu katanya.
patuk adalah sebuah kota kelas kecamatan di gunung kidul. letaknya paling pinggir dan terdekat dengan kota jogja. dengan sepeda motornya, bapak berumur 55 tahun itu pun bergegas menuju toko bibit padi untuk sawahnya.
satu musim kemarau kemarin, praktis sawah pak kardi itu nganggur. lahannya yang tipikal sawah tadah hujan itu di’bero’kan atau tidak di ditanami apa-apa. di’cuek’in..
tak ada yang banyak dilakukan untuk sawahnya itu. penantian datangnya hujan adalah harapan. lantas, apa yang pak kardi lakukan di kala kering begitu?
ia mengolah satu sawah yang ada di salah satu daerah lembah. luasnya lebih sempit, tapi beruntung terdapat aliran air karenan dekat dengan “tuk”, sumber mata air tanah. tak ada soal suplai air akibat perubahan musim.
berbeda dengan beberapa orang lainnya. di musim kemarau, mereka banyak beralih fungsi. ada yang menjadi jualan kayu bakar, membuat arang, dan buruh apa saja di kota.
dan kini, hujan yang nampaknya masih malu-malu itu sudah menyapa mereka. meski begitu, itu cukup melegakan mereka. semoga hujan itu tak lagi malu-malu..
foto pinjam tanpa ijin dari sini. maaf.



